"Kelemahan kalo semua diceritain ke ortu gitu sih"
begitu katanya, saat aku bercerita pada seorang temanku.
jadi bagaimana? mau begini terus? teriris pisau oleh tangan sendiri?
sudah tahu sakit, mengapa masih dilanjut?
sabar
mengapa banyak dari mereka yang memintaku sabar? ya, aku tau Tuhan
selalu bersama orang-orang yang sabar, Tuhan memang selalu bersamaku
beserta karunia dan juga ujian-Nya
ada juga sabar dengan timeline yang jelas
dan yang ini, sabar hingga prespektif orang tuaku berubah
yang paling memungkinkan untuk kuteruskan mungkin hanya yang kedua,
jelas aku menolak yang pertama dan untuk yang terakhir aku masih bingung
pertanyaanku seringan saat aku bertanya menu makanan hari ini pada
ibu, tapi jawaban yang didapat lebih berat dari sekadar menu makan hari
ini
'jangan menjadi keledai, yang jatuh pada lubang yang sama'
hanya ekspresi datar yang mampu membalas jawaban itu
memang sebaiknya tak boleh ada satupun manusia yang berucap melebihi
kapasitasnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, tapi agama mengajarkan bahwa "Ridho Allah adalah Ridhonya orang tua"
jadi sesungguhnya, sharing dengan orang tua itu solusi. tidak perlu lagi berusaha mencari pembenaran, karena sudah pasti benar.
aku tertegun malam ini, mengkhawatirkan masa yang kulihat temaram.
entah karena aku yang melihat dari sisi ini, atau memang karena Tuhan
belum mengizinkanku untuk mengurus yang ini.
khawatirku sungguh simpel. menua sendiri, naudzubillah~
dari perbincangan malam ini, hanya satu kata yang aku garis bawahi -keluar-
kakak perempuanku berpesan agar aku bisa keluar~
yaaa aku tahu, aku memang harus keluar
dari zona nyamanku, dari perasaan baik-baik saja, dari rasa tak membutuhkan
semua jalan dibuat untuk dilalui tidak hanya mengikuti arus, karena arus kadang tak selalu lurus
sabangat unge!!
1 Juni 2014

Komentar
Posting Komentar
Berbagilah, karena itu indah :)