27 Mei 2014
Terjatuh,
Pancaroba lagi, entah beberapa hari kemarin saat aku
terbujur lemas tak mampu melakukan apa-apa bahkan untuk kepo pada akun media
sosialnya. Pancaroba kali ini sungguh dahsyat, membuatku yang paling anti
menyerah pada sakit harus pergi ke dokter di sabtu malam dan terpaksa
merehatkan segala yang seharusnya ku kerjakan. Deadline pekerjaan, laporan yang
belum selesai, deretan invoice yang harus kumohon pembayarannya, belum lagi
buku studi kelayakan bisnis-ku yang tak kunjung selesai. Rasanya seperti
digantung tanpa bisa bernafas panjang. Oiya dua lagi, laporan triwulan yang
seharusnya sudah bisa kususun, dan minggu depan adalah Ujian Akhir Semester.
Semseter ini mungkin adalah semseter akhir untukku, masih ada
utang 17 sks yang harus ku kontrak setelah habis semseter ini, dan 17 sks
tersebut tentang Advance Accounting + Lab, Mata kuliah Konsentrasi, Magang dan
Laporan Tugas Akhir. Melihat rentetan itu semua yang mengkhawatirkanku hanya
satu, teman-teman. Oh Tuhan, dimana lagi aku mendapatkan teman-teman setulus
mereka yang selalu membuatku bersemangat menghadapi apapun didepanku. Yang
membawaku selalu pada kebaikan. Tidak, jangan secepat ini aku jauh dari mereka
Tuhan.
Banyak yang membawaku pada arah yang lain sejauh aku
mengenal mereka. Dua hari kemarin kerjaanku hanya tidur dan membaca. Bukan
novel tentang persahabatan tapi entah mengapa segala kebaikan yang mereka
curahkan kepadaku selama ini terngiang begitu saja.
---
13 Juni 2014
Pagi tadi aku terbangun lebih siang dari biasanya, karena
kewajibanku untuk sholat sedang libur, padahal semalam kurang dari pukul
sembilan aku sudah terlelap. Mungkin aku lelah, entah karena apa. Kulipat jas
almamaterku dan pernyataan ibuku mengagetkanku, ‘kenapa nangis teh?!’ ya~ aku
lagi-lagi air mataku keluar, manja sekali aku akhir-akhir ini, melihat schedule board yang ku pajang dikamar saja rasanya tak sanggup. ‘hari ini UAS
terakhir, mah’ ‘orang lain seneng udah mau lulus, teteh kok malah nangis?!’. Aku
sungguh tak bisa berbuat apa-apa, ku kemas perlengkapan kerja dan kuliahku,
lalu berlalu dengan tugas rumah lainnya.
Tuhan, entah apa jadinya aku jika tidak bertemu dengan
mereka disini. Memang bukan tempat yang kuidamkan sejak kelas empat sekolah
dasar, bahkan sangat jauh dari cita-citaku yang ingin menjadi arsitek. Tapi,
disini aku tidak hanya mendapatkan pelajaran teori dan angka. Pemahaman tentang
sesama dan juga cinta, kudapatkan disini. Yang paling berarti bagiku adalah
pemahaman tentang Ketulusan.
Saat masuk, aku hanyalah Bunga yang tak peduli pada siapapun
yang duduk disamping kiri dan kananku. Semuanya ku kerjakan sendiri, datang
terlambat, duduk selalu dibangku paling depan atau belakang, pergi sholat tanpa
mengajak siapapun, pulang dijemput oleh ayah. Aku bahkan sungkan untuk meminta
nomor telepon dari masing-masing mereka. Jika harus pulang naik angkot-pun aku
lebih senang diam dan tidak bertanya adakah yang satu arah denganku. Namun
dengan sikapku yang cukup dingin, ternyata mereka tetap membuka diri untutkku. Mulai
dari tugas kelompok, sharing materi dan diskusi hal-hal lain. Aku selalu
dianggap ada oleh mereka. Betapa baiknya mereka, maaf bukan hanya baik, tapi
betapa tulusnya mereka.
Semester pertama mungkin tak lebih dari sepuluh kontak teman
kampus yang ada di handphone-ku. Teman yang kuajak untuk bercerita pun hanya
dua orang saja, dan dua-duanya laki-laki. Aku lebih senang curhat denga
laki-laki, karena mulut mereka diam, dan bisa mendengarkanku dengan sabar. Hingga
berlalu ke semester dua dan aku mulai membuka diriku lebih lebar, sudah mulai
banyak kontak teman kampusku kini, bahkan beberapa kini sering main kerumah
untuk mengerjakan tugas kelompok bersama, dan tentu saja tak hanya laki-laki,
ada gadis yang mulai menjadi sahabatku.
Sejak saat itu, aku mulai merasa nyaman untuk berbagi apapun
dengan mereka, bahkan untuk hal-hal yang kuanggap pribadi. Entah kenapa, tapi
ukuran badanku yang besar tak membuat mereka berpikir aku sudah dewasa. Mereka menganggapku
seperti gadis kacil, mungkin salah satu sebabnya karena stiap pulang ayah sudah
menunggu di halaman parkir. Aku juga tidak bisa berdandan, pakaian seragam
kerjaku ditempat yang lama jarang kututupi dengan sweater atau jaket, aku tak
begitu peduli dengan hal-hal seperti itu. Bahkan saat aku mulai membawa kendaraan
sendiri, beberapa atau mungkin semua mengkhawatirkanku. Saat hujan lebat,
bahkan ada yang sampai mengikutiku dari belakang. Dan kini aku sudah menjadi
pengendara yang lihai, sudah bisa ngebut hingga 90km/hour. Ada seorang bapak
yang sudah kuanggap sebagai bapakku sendiri, beliau bilang bahwa aku belum
muslimah, jadi harus hati-hati untuk dekat dengan lelaki manapun.
Kini, mereka sudah tahu mulai dari kebiasaan baik hingga
burukku. Kesukaannku pada makan, jalan-jalan, nonton, dan menulis. Aku selalu
suka saat blog update ku dibaca oleh mereka. Mereka selalu menyemangatiku untuk
terus menulis, memberitahuku setiap ada kompetisi menulis. Bahkan jika aku
sudah lama tak menulis, mereka mengingatkanku untuk menulis. Beberapa dari
mereka ada yang sudah dekat dengan ibu, mugkin secara diam-diam ayah dan ibuku
memang menitipkanku kepada mereka. Makanya terkadang, ada nasihat yang sama
kudengar seperti nasihat dari orang tuaku.
Aku kini sudah jauh berbeda dengan aku yang dulu. Aku sudah
tak lagi memandang siapa yang berdiri didepanku. Karena menjadi orang yang yang
dipandang ‘seperti itu’ tidaklah enak, aku sudah pernah merasakannya. Dengan segala
kelabilanku, aku tahu mereka sangat menyayangiku. Perhatian dan pengertiannya
selama ini kepadaku akan menjadi sesuatu yang kurindukan kelak.
Mungkin hari ini adalah pertemuan terakhirku dengan mereka
di kelas, duduk berdampingan, bercanda, memilih untuk tidak membicarakan
tentang pekerjaan.
Aku tahu, akan ada hari dimana aku atau salah satu dari
kalian mengenang semuanya sendirian lalu menangis. Bukan karena ada yang salah,
tapi masa bersama yang tak bisa dikembalikan. Mungkin aku dan sebagian diploma
tiga lainnya akan terlebih dahulu menggunakan Toga.
Terimakasih yaaa, telah sabar denganku, memberi perhatian,
pengertian dan pemahaman untukku. Aku sangat cinta kalian.
Peluk, kecup dari gadismu
Bunga Fitriani – 1D312006K
Tulisannya bagus :)
BalasHapusSuka sama cara penyampaian ceritanya..
Makasi Gilang :)
Hapus