Aku tersenyum, saat sadar Allah sedang mengabulkan satu persatu pintaku
Ramadhan
Selalu menjadi bulan yang ku tunggu, bulan teristimewa untukku
Mungkin kau akan berkata, tidak hanya aku yang menganggapnya istimewa
Ya, tapi aku punya cerita...
Dua puluh delapan ramadhan dua puluh dua tahun hijriah yang lalu
Tepat satu malam sebelum malam takbir
Terlahir seorang putri dari seorang ibu dengan segala keterbatasannya
---
Tak pernah berniat akan melahirkan di sebuah ruang operasi rumah sakit yang besar
Hanya sanggup mengecek setiap bulan kehamilannya ke rumah bidan terdekat
Menjalankan semua nasihat bibi-bibi dan ibu mertuanya sembari terus ber'doa agar kelahirannya nanti lancar
Ibu muda ini memang seorang yatim piatu sejak gadis, dan ia tumbuh menjadi gadis yang kuat
Hingga suatu hari, perutnya terasa mulas dan ia dibawa kerumah seorang bidan
namun sayang, bidan tak sanggup membantu dan merujuknya ke rumah sakit besar. Dokter yang menangani ibu muda itupun mengambil keputusan untuk melahirkan dengan jalan operasi caesar.
Tak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya mengiyakan keputusan dokter seraya meminta restu dari suaminya. Saat itu suaminya hanya seorang pedagang beras yang mengirim beras dari toko keluarga di daerah Bandung Selatan menuju ke beberapa pasar besar di Jakarta. Tak cukup banyak tabungan keluarga kecil ini untuk membiayai semua kebutuhan operasi. Dengan pasrah dan tawakal, orang tua muda inipun yakin Allah sudah mengatur yang terbaik.
Ternyata tak sampai disitu, bayi perempuan yang dilahirkan mengalami kelainan dalam metabolisme tubuhnya. Sehingga diharuskan menjalani perawatan intensif. Setiap malam selama dua puluh tujuh hari, ayahnya menunggu dengan setia di depan ruang perawatan bayi. Tidak bisa menjaganya langsung memang, karena sudah ada perawat yang lebih sigap, tapi hati ayah mana yang tega melihat putri kecilnya terus menerus menurun kondisinya bahkan sudah tidak ada tempat untuk meletakan selang infus.
'Tolong beritahu ibunya, doa'kan putrinya agar bisa bertahan'. Seuntai kalimat yang membuat ibu muda menangis ketika mendengarnya, hatinya bertanya 'apa masih kurang perjuanganku melahirkannya?, buatlah ia hidup Ya Allah'. Dengan cepat kabar itu sampai kepada keluarga besar di Banten, semua sanak saudara turut mendo'akan kelangsungan hidup sang bayi. Hingga selang beberapa hari, kondisinya semakin membaik dan sudah bisa dibawa pulang. Aku tahu, ini juga salah satu berkah Ramadhan.
Kepulangan sang bayi kerumah sudah sangat ditunggu. Aqiqah yang sudah dilaksanakan tanpa kehadirannya membuat penasaran banyak orang khususnya keluarga. Bagaimana rupanya, cantikkah seperti ibunya?, berapa berat badannya? mengingat hampir satu bulan ia dirawat.
Ada kisah mengharukan disini. Ibu muda ini adalah seorang Pianis yang mahir. Suaranya juga enak didengar, menyamankan. Ia sangat menyayangi pianonya, apalagi setelah kedua orang tuanya meninggal. Mungkin hanya piano tersebut sahabat yang meramaikan perjalanan hidupnya. Saat sang bayi dinyatakan boleh pulang, tentu tidak begitu saja bayi itu pulang. Ada biaya yang harus dibayar untuk menebus perawatan bayi tersebut. Biayanya pun tak banyak, setelah berikhtiar kemana-mana, akhirnya ibu muda itupun mengikhlaskan satu set piano dan meubelnya untuk dijual dan uangnya digunakan untuk membayar biaya perawatan sang bayi. Mungkin itu adalah piano peninggalan orang tuanya yang sangat berharga, tapi aku dapat merasakan bahwa bayi perempuan itu jauh lebih berharga dari apapun.
Bayi itu tumbuh dengan baik, perlahan berat badannya bertambah. Walau hampir satu minggu sekali ia harus pergi ke dokter. Sepasang suami istri itupun merawatnya dengan baik. Hingga putri cantiknya berkembang dengan baik.
Perasaan hampir kehilangan yang dirasakan oleh ibu muda itu memang tertanam hingga kini. Walau usia putrinya sudah mau menginjak dua puluh dua tahun, namun tak semudah itu ibunya mampu memberikan kelapangan dalam izin apapun. Ibunya selalu mengkhawatirkan kondisi putrinya. Hal yang wajar melihat perjuangannya diatas.
Dan aku ingin memberi tahu, nama dari putri ibu tangguh itu,
Namanya, Bunga Fitriani.
Semoga ibuku dapat merasakan betapa aku bereterimakasih atas perjuangannya. Tak ada do'a yang kuucap disini, cukup Allah sebaik-baiknya pendengar do'aku.
Ramadhan, selalu mengingatkanku pada buah yang manis. Apapun yang kini sedang kurasakan, kuanggap semua ini adalah bibit yang sedang kutanam. Kelak, Tuhan akan memberiku buah yang kuinginkan :)
Happy Fasting Guys\m/
Komentar
Posting Komentar
Berbagilah, karena itu indah :)