Diplomasi adalah seni dan praktik bernegosiasi oleh seseorang (disebut diplomat) yang biasanya mewakili sebuah negara atau organisasi. Kata diplomasi sendiri biasanya langsung terkait dengan diplomasi internasional yang biasanya mengurus berbagai hal seperti budaya, ekonomi, dan perdagangan. Biasanya, orang menganggap diplomasi sebagai cara mendapatkan keuntungan dengan kata-kata yang halus. (source: http://id.wikipedia.org/wiki/Diplomasi )
Diplomasi
Kata ini mulai familiar di telinga saya saat saya mulai bekerja. Sudah hal
yang wajar seorang pekerja berdiplomasi dalam berkomunikasi dengan rekan
kerjanya atau juga dengan atasannya. Awalnya saya pikir, diplomasi ini
digunakan demi menghargai sesama pegawai agar tidak tersinggung, namun ternyata
banyak pegawai yang menggunakan diplomasi ini untuk berkata tidak jujur.
Diatas itu adalah perbincangan saya dengan salah seorang sahabat. Saya menunjukkan
salah satu foto anak pejabat yang menurut saya mirip dengan penyanyi jazz
Raisa. Saya terhenyak saat dia berkata ‘kan jujur’. Oke, ternyata masih ada
orang dengan hati tulus tak mengenal diplomasi.
Maksudnya disini, sering kali saya bertemu dengan orang yang punya
kepentingan dan akhirnya menjilat sana-sini. Termasuk menggunakan cara
diplomasi untuk berkata tidak jujur. Misalnya, tulisan seorang atasan di
blognya mengenai review salah satu negara yang bisa dibilang kurang informasi
dan lebih banyak foto dibandingkan detail lainnya, namun dipuji secara
berlebihan bahkan sampai berdiplomasi untuk membuatkan buku cerita perjalanan sang penulis. Dibalik maksudnya, seorang tersebut sesungguhnya sedang mengambil hati sang atasan agar dapat dimutasikan ke tempat duduk yang lebih nyaman. Demi apapun hati saya risih melihat hal-hal seperti ini.
Atasan saya dikantor bahkan pernah berkata bahwa butuh ijazah D3 untuk
bisa ‘awet’ dalam satu perusahaan. Bukan diploma tiga yang kita ketahui.
Namun D3 disini adalah Dekat-Dengan-Dia. Dia yang berkuasa, yang
memiliki wewenang besar dalam suatu perusahaan.
Diplomasi lainnya adalah diplomasi dalam lingkungan sesama pegawai. Ini
yang sedang saya rasakan. Awalnya saya juga memahami maksud dari diplomasi ini
agar bisa berkomunikasi dengan baik dan tidak ada masalah di depannya. Namun
saat saya merasakan diplomasi ini juga dibuat dalam rangka untuk menutupi
ketidak jujuran, rasanyaaaaaaaaaaa saya ingin membuat istilah diplomasi ini
tidak ada di dunia.
Mungkin masih bingung dengan tulisan saya di atas. Ini tentang masalah
dalam line sesama pegawai. Mungkin beberapa kali kita atau
orang-orang yang belum bekerja mendengar, sesama pegawai ‘saling memudahkan’
untuk urusan yang tidak sewajarnya. Misal, bagian personalia dengan karyawan
yang berkepentingan untuk izin/cuti libur. Bagian pengajuan dana dengan bagian
transfer. Satu contoh misalnya, saat bagian pengajuan dana akan mendapatkan ‘fee’
jika uang tersebut cair, akan ada diplomasi dari bagian pengajuan dana bahwa
tagihannya sudah tertunda lebih lama, atau jika tidak dicairkan segera akan
mengurangi kepercayaan, dsb. Juga masalah-masalah lainnya. Dan beragam
diplomasi lainnya. Seperti saat terlambat masuk kantor dengan alasan ‘sedang
jalan’ yang terbaca oleh kita ‘sedang di jalan menuju kantor’ padahal sedang
jalan dengan kaki dirumahnya atau ditempat lain. Hal-hal kecil yang sering
dijadikan ‘diplomasi’ untuk melindungi dari peringatan atau apapun
kepentingannya.
Ini jadi peringatan untuk diri saya pribadi. Berhenti berdiplomasi untuk
hal-hal kecil atau saya yang akan terjebak dengan zona nyaman yang salah
terus-menerus. Naudzubillah~
Sunnah mengajarkan ‘amalkan suatu amal, barulah menyerukan’. Sejujurnya
saya menulis ini secara tidak langsung ingin menyeru orang-orang yang
diplomasinya sudah tidak bisa saya terima lagi. Karena diplomasi yang ia
gunakan untuk berkata tidak jujur. Namun, bagaimanapun saya yang harus
memperlihatkan bahwa tak ada yang lebih baik dibanding berkata jujur, apapun
akibat yang nantinya akan timbul. Manusia memiliki perasaan, lalu mengapa harus
takut untuk mengatakan yang sebenarnya. Siapapun akan mengerti jika ada amal
yang baik harus dikerjakan tanpa mengurangi tanggung jawab yang lain.
Semoga kita senantiasa diberikan perlindungan oleh Allah dari godaan
syetan, agar selalu berkata jujur.
Sama-sama belajar, saling mengingatkan.

Komentar
Posting Komentar
Berbagilah, karena itu indah :)