Kamu, tiba tiba menjadi bahasan menarik untukku
bisa jadi menjadi obat untuk rasa sakitku
yaaa seperti biasa saat ada yang mengganggu pikaranku, hanya batuk yang mampu mengeluarkannya saat tak mampu lagi bahasa dan sikap menjadi perantara rasa.
oh Dear You,
seseorang bertanya padaku, "apa kau sudah yakin?"
dan aku hanya bisa diam sembari melihat rintikan hujan yang sudah 3jam membuat kami menunggu
yakin? apa arti yakin? bukankah saat sudah tak ada pertanyaan dan alasan lagi untuk melakukan sesuatu?!
lalu apakah kau bisa meyakinkanku?!
salah! membuatku yakin bukanlah pekerjaanmu. tapi butuh do'a, ikhtiar, istikhoroh dan ridho.
Kami,
menyamai usia keponakan kecilku, ia saja bahkan sudah tumbuh semakin sempurna setiap harinya. banyak perkembangan yang ia tunjukan untuk membahagiakan kedua orang tua, dan keluarga besarnya.
lalu kami? apa yang terjadi dengan kami? keinginan yang meletup letup di waktu pertama seolah segala sesuatunya terlalu mudah, sehingga membuatku yakin untuk melangkah lebih jauh dan mengazamkan sesuatu yang bahkan belum ku istikhorohkan saat itu. jangan-jangan memang bukan keinganan kami, tapi hanya aku?
sekali lagi aku bertanya pada diriku "apa aku sudah yakin?"
seseorang menjawab bahwa keyakinan itu sulit, tapi ada yang lebih mudah... bersyukur!
dahulu rasa yakinku jauh lebih besar dari hari ini.
menjadikanmu imam suatu hari nanti, aku sungguh ingin!
tapi jika kau tanya padaku hari ini, mungkin kau hanya menemukanku sedang diam dengan harapan entah dimana.
apa perlu kuperjelas seberapa jauh aku melangkah? seberapa besar yang telah kuperjuangkan? rasanya terlalu egois saat aku ingin kamu tahu! maaf, mungkin ini hanya bagian dari rasa khawatirku.
Kamu,
apa aku berpikir kau sebaik yang itu? aku menerawang jauh dan terus mendoakanmu, semoga Tuhan selalu melindungimu. agar setiap prasangka yang hanya membuatku khawatir itu tidak benar terjadi.
Kamu,
sebaiknya kamu tahu, aku bukanlah penuntut yang baik. bukan tipe complainer yang setia menyebalkan pasangannya hanya karena tak ada kabar.
itulah aku! aku tak bisa memaksamu untuk jalan menghabiskan waktu bersama setiap minggu. aku bukan orang yang bisa berkali-kali mengajakmu pergi ke suatu tempat. aku hanya suka berkata sekali. aku tidak suka menentukan, aku hanya suka berbagi. bukan dominan yang seakan bisa mengatur semua jalannya sesuka hatiku.
Kamu,
aku pernah terlalu baik, niatku hanya menjaga privasi masing-masing. saling percaya dan saling mendo'akan. namun Tuhan menunjukan padaku. bahwa seseorang disana bahagia dengan -yang menurutnya- ketidakpedulianku. tak perlu kujelaskan apa yang ia lakukan saat 2 bulan tak menemuiku. kurasa kamu tahu apa yang dilakukan laki-laki saat merasa pasangannya tidak mempedulikannya.
padahal jelas, bukan itu maksudku, namun memang benar tak semua niat baik memiliki muara yang baik.
Kamu,
tahukah, kemarin aku membaca satu artikel yang sempat mengganggu batinku
katanya 'halakan atau tinggalkan'
ku share pada sahabatku dan tak ada tanggapan. aku bingung
suaraku sampai hilang kemarin, sebegitu stress kah aku saat ini?
namun, bukankah kita memelihara jarak? memelihara komunikasi? bukankah kita jauh dari hal yang dikhawatirkan? jauh dari maksiat?
lalu, mengapa sempat terpikir untukku untuk mengakhiri saja semuanya, toh Tuhan pasti mendengar do'aku, pertemuan pasti akan menemui dua muara, perpisahan atau tujuan selanjutnya.
benakku, semua yang sudah kupersiapkan pada akhirnya akan bermanfaat, untuk apapun walau bukan untuk niat di awal pertemuan.
Kamu,
semoga Allah senantiasa melindungimu, memberikanmu keberkahan, membahagiakanmu dunia dan akhirat. menjauhkanmu dari maksiat, mengabulkan yang terbaik untukmu aamiin
ah sudahlah, jangan kau anggap ini serius
ini hanya bagian dari masa bulananku. suhu badanku terlalu tinggi sehingga mendorong rasa dan pikiranku untuk menulis semua ini. entah untuk tujuan apa, aku hanya ingin menulis, semoga menjadi bagian dari pereda demamku
Dear You, I love You~
bisa jadi menjadi obat untuk rasa sakitku
yaaa seperti biasa saat ada yang mengganggu pikaranku, hanya batuk yang mampu mengeluarkannya saat tak mampu lagi bahasa dan sikap menjadi perantara rasa.
oh Dear You,
seseorang bertanya padaku, "apa kau sudah yakin?"
dan aku hanya bisa diam sembari melihat rintikan hujan yang sudah 3jam membuat kami menunggu
yakin? apa arti yakin? bukankah saat sudah tak ada pertanyaan dan alasan lagi untuk melakukan sesuatu?!
lalu apakah kau bisa meyakinkanku?!
salah! membuatku yakin bukanlah pekerjaanmu. tapi butuh do'a, ikhtiar, istikhoroh dan ridho.
Kami,
menyamai usia keponakan kecilku, ia saja bahkan sudah tumbuh semakin sempurna setiap harinya. banyak perkembangan yang ia tunjukan untuk membahagiakan kedua orang tua, dan keluarga besarnya.
lalu kami? apa yang terjadi dengan kami? keinginan yang meletup letup di waktu pertama seolah segala sesuatunya terlalu mudah, sehingga membuatku yakin untuk melangkah lebih jauh dan mengazamkan sesuatu yang bahkan belum ku istikhorohkan saat itu. jangan-jangan memang bukan keinganan kami, tapi hanya aku?
sekali lagi aku bertanya pada diriku "apa aku sudah yakin?"
seseorang menjawab bahwa keyakinan itu sulit, tapi ada yang lebih mudah... bersyukur!
dahulu rasa yakinku jauh lebih besar dari hari ini.
menjadikanmu imam suatu hari nanti, aku sungguh ingin!
tapi jika kau tanya padaku hari ini, mungkin kau hanya menemukanku sedang diam dengan harapan entah dimana.
apa perlu kuperjelas seberapa jauh aku melangkah? seberapa besar yang telah kuperjuangkan? rasanya terlalu egois saat aku ingin kamu tahu! maaf, mungkin ini hanya bagian dari rasa khawatirku.
Kamu,
apa aku berpikir kau sebaik yang itu? aku menerawang jauh dan terus mendoakanmu, semoga Tuhan selalu melindungimu. agar setiap prasangka yang hanya membuatku khawatir itu tidak benar terjadi.
Kamu,
sebaiknya kamu tahu, aku bukanlah penuntut yang baik. bukan tipe complainer yang setia menyebalkan pasangannya hanya karena tak ada kabar.
itulah aku! aku tak bisa memaksamu untuk jalan menghabiskan waktu bersama setiap minggu. aku bukan orang yang bisa berkali-kali mengajakmu pergi ke suatu tempat. aku hanya suka berkata sekali. aku tidak suka menentukan, aku hanya suka berbagi. bukan dominan yang seakan bisa mengatur semua jalannya sesuka hatiku.
Kamu,
aku pernah terlalu baik, niatku hanya menjaga privasi masing-masing. saling percaya dan saling mendo'akan. namun Tuhan menunjukan padaku. bahwa seseorang disana bahagia dengan -yang menurutnya- ketidakpedulianku. tak perlu kujelaskan apa yang ia lakukan saat 2 bulan tak menemuiku. kurasa kamu tahu apa yang dilakukan laki-laki saat merasa pasangannya tidak mempedulikannya.
padahal jelas, bukan itu maksudku, namun memang benar tak semua niat baik memiliki muara yang baik.
Kamu,
tahukah, kemarin aku membaca satu artikel yang sempat mengganggu batinku
katanya 'halakan atau tinggalkan'
ku share pada sahabatku dan tak ada tanggapan. aku bingung
suaraku sampai hilang kemarin, sebegitu stress kah aku saat ini?
namun, bukankah kita memelihara jarak? memelihara komunikasi? bukankah kita jauh dari hal yang dikhawatirkan? jauh dari maksiat?
lalu, mengapa sempat terpikir untukku untuk mengakhiri saja semuanya, toh Tuhan pasti mendengar do'aku, pertemuan pasti akan menemui dua muara, perpisahan atau tujuan selanjutnya.
benakku, semua yang sudah kupersiapkan pada akhirnya akan bermanfaat, untuk apapun walau bukan untuk niat di awal pertemuan.
Kamu,
semoga Allah senantiasa melindungimu, memberikanmu keberkahan, membahagiakanmu dunia dan akhirat. menjauhkanmu dari maksiat, mengabulkan yang terbaik untukmu aamiin
ah sudahlah, jangan kau anggap ini serius
ini hanya bagian dari masa bulananku. suhu badanku terlalu tinggi sehingga mendorong rasa dan pikiranku untuk menulis semua ini. entah untuk tujuan apa, aku hanya ingin menulis, semoga menjadi bagian dari pereda demamku
Dear You, I love You~
Komentar
Posting Komentar
Berbagilah, karena itu indah :)