"Hai apa kabarmu Hati? bagaimana keadaanmu?
kulihat ronamu tak semerah hati yang sering kulihat di emoticon social media, ada gelap tepat ditengahmu.
aku tahu, kau pasti sulit mengatakan apa yang kau rasa. kau memang tak sehebat mulut yang terkadang mudah sekali mengeluarkan kata-kata. Namun, bukan berarti kau tak punya jawaban untuk itu kan?"
"maafkan aku yang hanya bisa membuatmu sesak yah? apa kau merasa sakit dengan gelap ditengahku? sesakit apa? maaf jika aku tidak cukup pintar menjaga diri sehingga membuatmu sakit yaa"
"yaaa aku memang sakit, aku bahkan tak bisa lagi menangis menahan sakit ini, sudah terlalu sering kau buat aku sakit dan kau biarkan ini menjadi bekas yang kuat hingga aku hilang kepekaan terhadap rasa, katakanlah kau kenapa Hati?"
"maafkan aku, maaf tetapi semua yang membuatmu sakit itu sesungguhnya kau tahu, tak perlu aku ceritakan, cukup kau rasakan"
"apa?! aku tak pernah mau membuat diriku merasakan rasa sakit, itu hanya alasanmu saja. lagi pula selama ini aku baik-baik saja! jangan beralibi, ceritakan padaku apapun yang telah terjadi padamu wahai Hati~"
"mungkinkah aku tunjukkan padamu? atau mungkin aku tahu maksudmu, aku akan mengingatkanmu sesuatu, semoga ini membuatmu tahu yang sebenarnya terjadi.
ingat saat petang kau duduk dihadapan seorang yang manis lalu ia memintamu untuk menyelamatkan hubungannya dengan dia?! dan saat itu kau tak bicara yang sebenarnya karena kau terlalu takut hubungan mereka berakhir?! kau hanya tersenyum sembari mendo'akan keberlangsungan hubungan mereka kedepan dan kau bilang pada semua orang yang melihat kalian bahwa kau baik-baik saja?! itu tepat hari pertama kau tak bisa lagi mengeluarkan air mata.
lalu saat seorang teman yang kau anggap baik dan sholeha mengatakan bahwa hasil kerjamu selama ini tidak cukup baik, kau 'slow respon', walau sesungguhnya kau sedang berusaha menjadi seorang independent accountant yang baik namun tak pernah kau sampaikan itu padanya kan?! itu kali kedua kau tak bisa menangis, Jiwa.
dan saat orang-orang yang kau harapkan selalu ada untukmu, lalu mereka seolah berkata 'iya' padahal mereka telah meninggalkanmu lalu berkata 'tidak' disaat kau benar-benar mengaharapkan keberadaannya. sesungguhnya kau sudah tahu isyarat penolakan itu lalu kenapa kau masih berharap hingga kau tak punya cukup tenaga untuk mengekspresikan segalanya?!
dan yang terakhir, saat kau masih saja berharap kepada seseorang yang tak mungkin mendampingimu, itu sungguh membuatmu sakit, kau yang tak menghargai dirimu sendiri sayang~"
"benarkah itu? bahkan saat mendengar semua ucapanmu aku masih tak bisa menangis, Hati"
"sesekali dengarkanlah aku, jangan terus-menerus membohongi dirimu dengan berpura-pura baik-baik saja. katakan saja pada mereka, mereka punya dua telinga yang seharusnya bisa lebih banyak mendengar daripada hanya membicarakan yang tidak-tidak tentangmu"
"yaaa, rasanya memang mudah,tapi aku tak sampai Hati untuk mengutarakan semuanya"
"kau punya tangan yang bisa kau gunakan untuk mengutarakan semuanya, kau juga cukup pintar untuk merangkai kata-kata, kau bisa saja membuat gambar tentang apa yang kau rasa, tak harus melalui ucapan sayang~"
"haruskah? tapi aku memang baik-baik saja kok, percayalah"
"terserah, saranku hanya satu, jangan pernah kau utarakan semua itu pada tempat yang salah, yang hanya membuat orang salah membaca arti pesanmu, seperti katamu 'it's all about prespective'. aku hanya mau percaya satu hal, aku percaya sesungguhnya kau bisa menjaga semuanya dengan sangat baik, aku mencintaimu Jiwa"
"terimakasih Hati"
hingga tulisan ini berakhir, sang Jiwa masih tidak mengerti mengapa ia sulit meneteskan air mata, walau perasaannya sangat kacau, ia tetap tersenyum dan bicara 'aku baik-baik saja'
Komentar
Posting Komentar
Berbagilah, karena itu indah :)