Ini sudah Juli dan hujan masih saja mengikuti. Hingga terik
seperti lelah menanti, waktunya untuk unjuk diri.
Entah karena sudah lama atau karena pikiranku sudah beralih
jauh. Namun, rasanya kaku sekali merangkai kata agar nikmat untuk dibaca. Sekadar
satu dua kalimat mungkin masih sering kutulis disembarang kertas tanpa pernah
kubaca ulang dan berakhir dipembuangan sampah. Mungkin ini akibatnya jika
seorang penulis amatir mendapat tekanan atas tulisannya. Mungkin
ia masih bisa tertawa, namun hatinya terlalu sesak, penuh.
Hujan tadi mengingatkan masa termanis hidupku. Saat bebas
kutulis semuanya, tak peduli siapapun membacanya, karena tulisan sesungguhnya
memang untuk dibaca. Mudah rasanya merangkai kata, merangkai apa yang ingin
kumaksud tak peduli apa prespektif orang. Toh katanya mulut manusia memang
pintar sekali berkomentar.
Lihat tubuhku kini, semakin besar karena mungkin semua kumakan
sendiri. Tak ada media dimana aku bisa berbagi lagi. Aku takut kehilangan lagi,
sebab tulisanku mungkin terlalu menyakitkan, baunya membuat orang jauh dariku. Walau
kutahu, disini masih ada yang setia menunggu untuk menikmati setiap tulisanku,
tak peduli sekejam apa kata yang kurangkai, karena menurutnya itu hanya sebuah
tulisan, dan kenikmatan dalam membaca, bukankah itu hanya masalah selera.
Sudah kucoba cara lain untuk mengganti tulisanku. Namun yang ada
hanya merusak diri. Tak beraturan hanya kesia-siaan. Sulit menerima kewajiban
disetiap hari, karena terlalu fokus mencari kenikmatan.
Bertemu dengan seorang kawan lama, dan pertanyaannya
membuatku sadar, aku memang sudah jalan terlalu jauh dari diriku sendiri. “Nge,
masih suka kopi kan? Nih ada kopi lampung” katanya. Aku senyum mengurai lamunanku.
Ya, aku –masih- suka kopi.
Memang ya, paling sulit mengenal diri. Coba saja tulis
sepuluh hal yang tak kau sukai dari dirimu, butuh seharian hingga akhirnya kau
selesai. Memaknai diri bahagia, sedih, bimbang, sakit seperti sudah pintar
dengan manuver disetiap media sosial agar orang perhatian. Apa gunanya jika
ternyata yang jauhpun hanya sekadar melihat tanpa ada aksi. Susah payah cerita
panjang lebar menulis dalam ruang percakapan padahal yang membalas pun
sesungguhnya tak peduli. Hanya formalitas agar terlihat turut merasakan apa
yang dialami.
Aku banyak belajar, dari diriku yang dahulu dan kini. Ya,
aku memang terlahir manja yang tak bisa jauh dari orang lain. Aku memang sangat
bergantung pada orang-orang terdekatku. Namun setidaknya ada hal yang sangat
aku kuasai, tak perlulah orang lain tahu, cukup aku.
Jadi, hujan, menurutku selama kau memang ingin turun di bumi
walaupun sudah bukan masamu lagi, turunlah. Siapapun tak berhak memintamu
menahan air itu terlalu lama dilangit. Selain Tuhan, tak ada yang berhak
mengatur takdir turun-mu. Do’a memang mampu menggeser takdirmu, namun hanya
orang shalih yang do’anya terkabul bukan?. Biarkan mereka yang hanya
menuliskannya di laman media sosial, itu bukan do’a hanya sekadar curhatan,
karena tak tahu pada siapa ditujukan.
Akupun, sama.
Akhirnya ada postingan baru juga.
BalasHapusKeep Writing sist!!!
Baru berani haha,harus mulai baca lagi, biar ga kaku
BalasHapusThanks for blogwalking