Langsung ke konten utama

Turunlah, Karena Itu Kau Dinamai Hujan

Ini sudah Juli dan hujan masih saja mengikuti. Hingga terik seperti lelah menanti, waktunya untuk unjuk diri.

Sore tadi, mengingatkanku pada masa yang sudah lalu. Masa dimana secangkir moccachino setia temaniku. Hujan deras sesaat aku tiba diruangan tak berjendela. Ruangan dimana kini aku menafkahi diri. Perjalanan pulang tanpa senja, hanya sisa hujan disepanjang aspal yang membasahi kuda besiku. Langit putih bersih seakan kotoran baru saja ia buang ke bumi. Secangkir whitecoffee memang sengaja kuseduh sebelum pulang, setidaknya cukup menghangatkan tubuhku sepanjang perjalanan nanti.

Entah karena sudah lama atau karena pikiranku sudah beralih jauh. Namun, rasanya kaku sekali merangkai kata agar nikmat untuk dibaca. Sekadar satu dua kalimat mungkin masih sering kutulis disembarang kertas tanpa pernah kubaca ulang dan berakhir dipembuangan sampah. Mungkin ini akibatnya jika seorang penulis amatir mendapat tekanan atas tulisannya. Mungkin ia masih bisa tertawa, namun hatinya terlalu sesak, penuh.

Hujan tadi mengingatkan masa termanis hidupku. Saat bebas kutulis semuanya, tak peduli siapapun membacanya, karena tulisan sesungguhnya memang untuk dibaca. Mudah rasanya merangkai kata, merangkai apa yang ingin kumaksud tak peduli apa prespektif orang. Toh katanya mulut manusia memang pintar sekali berkomentar.

Lihat tubuhku kini, semakin besar karena mungkin semua kumakan sendiri. Tak ada media dimana aku bisa berbagi lagi. Aku takut kehilangan lagi, sebab tulisanku mungkin terlalu menyakitkan, baunya membuat orang jauh dariku. Walau kutahu, disini masih ada yang setia menunggu untuk menikmati setiap tulisanku, tak peduli sekejam apa kata yang kurangkai, karena menurutnya itu hanya sebuah tulisan, dan kenikmatan dalam membaca, bukankah itu hanya masalah selera.

Sudah kucoba cara lain untuk mengganti tulisanku. Namun yang ada hanya merusak diri. Tak beraturan hanya kesia-siaan. Sulit menerima kewajiban disetiap hari, karena terlalu fokus mencari kenikmatan.

Bertemu dengan seorang kawan lama, dan pertanyaannya membuatku sadar, aku memang sudah jalan terlalu jauh dari diriku sendiri. “Nge, masih suka kopi kan? Nih ada kopi lampung” katanya. Aku senyum mengurai lamunanku. Ya, aku –masih- suka kopi.

Memang ya, paling sulit mengenal diri. Coba saja tulis sepuluh hal yang tak kau sukai dari dirimu, butuh seharian hingga akhirnya kau selesai. Memaknai diri bahagia, sedih, bimbang, sakit seperti sudah pintar dengan manuver disetiap media sosial agar orang perhatian. Apa gunanya jika ternyata yang jauhpun hanya sekadar melihat tanpa ada aksi. Susah payah cerita panjang lebar menulis dalam ruang percakapan padahal yang membalas pun sesungguhnya tak peduli. Hanya formalitas agar terlihat turut merasakan apa yang dialami.

Aku banyak belajar, dari diriku yang dahulu dan kini. Ya, aku memang terlahir manja yang tak bisa jauh dari orang lain. Aku memang sangat bergantung pada orang-orang terdekatku. Namun setidaknya ada hal yang sangat aku kuasai, tak perlulah orang lain tahu, cukup aku.

Jadi, hujan, menurutku selama kau memang ingin turun di bumi walaupun sudah bukan masamu lagi, turunlah. Siapapun tak berhak memintamu menahan air itu terlalu lama dilangit. Selain Tuhan, tak ada yang berhak mengatur takdir turun-mu. Do’a memang mampu menggeser takdirmu, namun hanya orang shalih yang do’anya terkabul bukan?. Biarkan mereka yang hanya menuliskannya di laman media sosial, itu bukan do’a hanya sekadar curhatan, karena tak tahu pada siapa ditujukan.


Akupun, sama.



Komentar

  1. Akhirnya ada postingan baru juga.
    Keep Writing sist!!!

    BalasHapus
  2. Baru berani haha,harus mulai baca lagi, biar ga kaku
    Thanks for blogwalking

    BalasHapus

Posting Komentar

Berbagilah, karena itu indah :)

Postingan populer dari blog ini

Tebing Keraton - Bandung

Bandung 16 Agustus 2014 Bandung Hits Masa Kini, salah satu judul blog yang ditulis sepertinya oleh mahasiswa ITB itu menarik perhatian saya untuk membacanya. Saat saya baca, ternyata itu yang ada disana. Yak, TEBING KERATON! Beberapa kali melihat foto beberapa teman di media sosial sedang berada di Tebing Keraton. Awalanya saya pikir karena menggunakan nama ‘Keraton’ tempat ini bukanlah di Bandung, mungkin daerah sekitar Jawa Tengah atau Jawa Timur. Ternyata dari ulasan blog yang saya baca, tempat ini ternyata di Bandung, tepatnya di Desa Ciburial ±6km dari Taman Hutan Raya Djuanda(Dago Pakar).Eh iya, Tebing Keraton ini ternyata baru lahir awal Mei 2014 loh. Dengan antusias dan dorongan cerita beberapa teman yang sudah kesana, akhirnya saya mengajak teman untuk mengunjungi Si Bandung Hits Masa Kini tersebut. Sayangnya satu hari sebelum hari H, teman saya membatalkan kunjungan kesana karena ada acara lain. Kecewa sih, tapi manusia di dunia ini kan banyak, dan akhirnya ngec...

MIS

mochamad irsyad sapardiansyah ~~ 7 Oktober 1988 lucu, ga cakep, kata teh maya sih manis, kalo kata mamah ganteng :)) kalo kata unga dia ituuuu 'sisupersabar' =) sweet deh pokonya dari pertama ketemu sampe sekarang nih belum pernah deh unga dimarahin, yang ada juga unga yang marah-marah haha mungkin karena aa yang cuek jadi ga begitu suka kalo marah-marah dan lebih suka kalo ngalah aja jadi unganya yang ga ngerti-ngerti =D bodo ah yang penting dianya tetep sayang haha pengen cerita tentang perjalanan kita yang hampir 3 bulan ini dulu mungkin alesan unga mau nerima dia karena panas aja ga ada tanggepan terus dari sidia(oranglain yang sempet gw tunggu), jadi ya wajar kalo baru sebulan udah bosen(kan niatnya juga cuma pengen bikin cemburu sidia). eh tapi yah baru juga putus 1minggu kali, tiba-tiba hubungannya malah jadi deket, entah karena pengaruh mamah yang tiap hari nanyain kabar dia, entah karena sms dia yang ga ganggu, entah kangen, entah sepi, entah k...

Posting Ketiga Saya

saya ini kelas 3 SMA. sekolah saya mempunyai orang orang yang hebat dalah bidang pendidikan. disana saya punya beberapa pendidik yang cukup dekat dengan saya(dekat dalam arti yg wajar!!) . yaa namanya juga kelas 3, jadi lebih banyak kenal dari juniornya walaupun kadang suka so kenal tentang sekolahnya apalagi pendidiknya(haa). saya punya sebuah pengalaman tentang ini. anak SMA biasanya suka dengan hal yang menyinggung perasaan. ituloh cinta-cintaan. suatu hari saat saya berbincang tentang suatu hubungan(pacaran) dengan sahabat saya di sela jam pelajaran, saat itu ada seorang pendidik yang ikut dalam perbincangan kami dan berkata "saat kamu menjadi seorang istri, di sakiti sebagaimana sakitnya pun kamu akan mendapat pahala karenanya, tapi saat kamu belum menjadi seorang istri kamu hanya akan mendapat sebuah kerugian". coba deh temen temen resapi. itu bener banget loh. kadang kita bisa frustasi banget cuma gara-gara ga dapet kabar dari pasangannya. tapi giliran dapet PR HITUNGA...