Langit mendung bukan pertanda hujan akan turun
Begitulah kira-kira pribahasa yang sering kita dengar, bukan?
Banyak yang ingin kutulis, salah satunya tentang review pra-liburan ku kemarin ke Jakarta. ah, sekali lagi Jakarta memang selalu punya cerita.
Namun kali ini biarkan aku menulis tentangku. Ya, agar tidak ada lagi yang khawatir atas keadaanku. Dan cukup melihat senyumku dengan riang, kembali.
Memang rasanya baru kemarin aku berbangga diri mengenalkan seseorang yang bahkan tak pernah menyatakan rasa sayangnya padaku sebagai calon suamiku. Aku mengenalnya dalam masa sakit yang tak bisa kujelaskan. Saat itu, baru saja aku dicampakkan oleh orang yang entah karena apa lebih memilih wanita lain dibandingku, padahal rasanya aku sudah menjadi wanita yang peling menyenangkan untuknya. Ya, aku bukanlah tipe complainer. Kurasa siapapun lelakinya akan suka dengan wanita yang tak banyak menuntut. Tapi, yang ada aku malah dicampakkan. Sudah, jangan terlalu lebar tertawamu membaca kisahku ini.
Setahun bertahan dengan apa yang menjadi tujuanku. Dari dulu, untukku jodoh bukanlah pilihan namun tujuan. Seperti perjalanan yang haruis kutempuh bagaimanapun Tuhan menyajikan alasnya. Entah mendaki atau menurun, bahagia atau susah, kurasa memang harus ada perjuangan dalam setiap perjalanan yang memiliki tujuan. Walau pada akhirnya kutahu bahwa ia tak menjadikanku tujuan, Aku hanyalah pilihan.
Tahukah kau, jika ada seseorang yang berkata bahwa ia telah memilihmu. Percayalah, suatu saat kau akan direndahkan serendah-rendahnya oleh dia. Dengan alasan, andai saja ia memilih yang lain, sudah pasti kehidupannya lebih baik, dan akan terus menyalahkan keberadaanmu dihidupnya.
Beruntunglah aku, karena tak menjadi pilihannya. Karena mungkin, bisa saja kupaksakan kehendakku, kuyankin Tuhan pun akan memberi. tapi tidak dengan cara yang lembut. Tuhan akan memberikannya dengan cara yang kasar, membiarkan kita merasakan apa akibat jika memaksakan kehendak Tuhan.
Hujan turun deras saat aku menulis ini. Jelas terlihat bagaimana Tuhan menurunkan dengan sempurna setiap tetesan air itu dari awan ke tanah. Tak ada yang mampu membuatnya terjadi selain Allah. Mashaa Allah..
Aku teringat, dan akan selalu mengingat kalimat yang temanku pernah katakan "jangan high expectation, Nge!" atau bahasa lainnya, jangan mendahului kehendak Tuhan. Kita benar-benar hanya sekedar penentu nasib, bukan takdir. Dan selama ikhtiar juga do'a masih terus dijalankan, berbaik sangkalah pada Tuhan. Semua pasti demi yang terbaik.
Rasa kecewaku mungkin tidak seberapa padanya. Walau tangis sempat membuatku sulit tidur, tak enak makan, malas berkegiatan. Amarahku jauh lebih besar dari semua yang kurasakan. Ingin kubanting tubuhnya hingga ia tak mampu bergerak lagi. Berapa kali kujelaskan padanya aku sudah berjalan jauh, berjuang dan kau menyia-nyiakan semua waktuku begitu saja. Tapi, agama mengajarkan bahwa menahan amarah itu jauh lebih baik. Ini ujian, Tuhan sedang mengujiku.
Seseorang berkata padaku bahwa Tuhan sedang cemburu karena mungkin aku berharap pada tempat yang salah. Tujuanku bukan lagi Lillah, Cintaku bukan lagi Fillah.
Perlahan aku bangkit. Bukan karena aku ingin menunjukan padanya bahwa aku bisa lebih baik tanpanya atau aku ingin dia tahu bahwa ada lelaki lain yang jauh lebih baik darinya. Semua demi Ibu. Yang dalam sholat malamnya, kudengar ia menangis mendo'akanku, agar tak lagi aku merasakan kecewa, agar tak lagi ada lelaki yang hanya main-main denganku, agar Tuhan segera mempertemukanku dengan orang yang tepat.
Dalam masa sujudkku 40 hari mengejar Cinta-Mu, aku tahu, apa yang selama ini ibuku minta, ibuku harap untukku. Aku harus bangkit, Aku harus bahagia, harus kutunjukkan pada ibuku bahwa aku baik-baik saja.
Pagi itu, saat aku hendak pergi kekantor, ibuku bilang "Lekas menikah yah Nak, Lekas beri Mama cucu, agar ada yang menemani Mama". Aamiin kataku. Dan sepanjang jalan aku hanya mampu menitikan air mata.
Tak ada maksud apapun untukku menuliskan ini semua. Aku hanya ingin siapapun yang membaca. Lihatlah betapa ibumu menginginkan kebahagiaan atasmu. Jangan kecewakan ibumu apalagi hanya demi manusia yang bahkan kau tak tahu tulus atau tidak cintanya padamu. Jika seseorang itu membutuhkanmu, tentu ia akan menyayangi ibumu, keluargamu. Bayangkan, baru berapa tahun kau hidup dengan ibumu, sudah berapa banyak baktimu, lalu kau tiba-tiba ingin menikah saja, menua bersama orang yang entah bisakah ia menyayangimu setulus ibumu, bisakah ia menerima semua kekuranganmu, malasmu, dan memaafkan segala kesalahanmu. Ingatlah, menikah itu menyatukan dua hal yang jelas berbeda dengan harapan kelak akan saling melengkapi dalam waktu yang tak berbatas, yang tak akan ada alasan untuk berpisah, yang akan saling menguatkan dalam kondisi apapun.
Semua pasti ada waktunya, dan jika memang sudah waktunya. jangan lupakan siapa yang selalu menyebut namamu dalam do'a. Sadarkah, keselamatanmu, kesehatanmu, bahkan setiap hal lucu yang kau tertawakan itu berkat do'a dari mereka yang menyayangimu.
Hari ini, aku mampu berdiri lebih tegak, tertawa lebih riang dan berjalan dengan keyakinan. Bukan melupakan yang telah berlalu, semua kujadikan bekal dalam perjalanan berikutnya. Dan siapapun, yang memiliki niat baik denganku, dengan keluargaku, kumohon datanglah saat kau benar-benar siap, tak perlu membawa segala janji yang tak pasti dan hanya mengulur waktu. Kami tidak serendah itu untuk dikecewakan kembali. Datanglah, dengan niat karena Allah. Agar tak ada waktu yang terbuang sia-sia.
Masih banyak yang ingin kuraih. Kembali aku membuka rangkaian mimpi yang sempat terputus. Ada keluarga yang setia menunggu keberhasilanku. Semoga Allah meridhoi setiap langkahku.
Bandung,
Dalam Masa Berbahagia
artikel yg sangat menarik,
BalasHapusmantap sangat bermanfaat.
salam sukses,,