Langsung ke konten utama

Memetik Buah

Barakallohu fii umrik Beyanda N. Assadi

Setahun sudah kau ada di dunia ini sayang...

Sedikit ku memutar kembali pada masa itu, 
Malam itu, aku dan ibuku menunggu ibumu yang sedang berjuang menahan segala sakit yang dirasakan seluruh tubuhnya. Tangismu menjadi bahagia dan haru seketika, sejujurnya aku baru pertama kali menyaksikan seseorang melahirkan dan itu kakak tercintaku, sungguh luar biasa pengorbananmu teh..

Saat itu pula, aku ingin menjadi seorang ibu, tentunya menikah untukku menjadi sesuatu yang sangat menyemangati hari-hariku berikutnya. Kelahiranmu bersamaan dengan kelahiran harapanku untuk menjadi seorang istri dan ibu.

Aku menganalmu, saat aku sedang rapuh dalam do'a-do'aku, saat aku sedang bangkit dari rasa kecewaku terhadap suatu harapan. Saat aku menunggu seseorang yang akan membantuku mewujudkan harapanku menjadi seorang istri dan ibu.

Kau seperti matahari pagi yang membuat harapanku bersinar, memberi semangat luar biasa agar aku segera mewujudkannya. Tak hanya kubiarkan sinarmu terang begitu saja, aku mulai menanam bibit-bibit kecil yang kuharap kelak buahnya akan manis, aku memberinya pupuk setiap pagi, menyiraminya dengan kasih sayang dan perhatian, tak lupa do'a yang setia kusebut agar tumbuh subur dan mampu bermanfaat kelak untukku juga untukmu, Matahariku.

Namun karena kau Matahari, ulahmu pun sama seperti Matahari.
Sinarmu dipagi hari menyejukkanku, mampu membuatku merasa nyaman dan aman
Siangnya, kau begitu terik sehingga kadang aku berpikir, mimpi kita akan segera, benar-benar segera terwujud.
dan Senja, kau pun tak lupa untuk berulah seperti senja, redup, meninggalkan sedikit kenangan indah dan pergi ke belahan lain semesta yang membutuhkan sinarmu.
Hingga esok paginya, kutahu kau tak lagi menerangi bibit yang sedang ku rawat dengan baik, kau pergi pada bibit lain, karena kau merasa bosan dengan bibit yang kutanam.
Kau menyinari yang kau anggap perlu untuk disinari, yang kau tak peduli jika harus mengulang dari awal melihat bibit itu tumbuh berkembang.
Kau meninggalkan bibit yang sudah menjadi pohon kecil dengan pucuknya, yang sebenarnya hanya tinggal menunggu sebentar lagi hingga berbunga dan berbuah.
Ia hidup, tetap hidup dengan harapan yang masih utuh, namun saat kau berkata untuk tidak mungkin menyinari pohon itu, perlahan ia mati, seperti tak ada lagi cadangan air bahkan sedikit untuknya bertahan.
Ia mati bersama harapannya untuk tumbuh menjadi pohon yang berbuah manis.

Aku, dengan pohon yang sudah mati. Haruskah aku diam dan tak menanam kembali?
Kau masih bersinar, entah sampai kapan, mungkin sampai semua teman-temanmu itu pergi, hingga kau tahu apa yang kau butuhkan, apa tujuan hidupmu sebenarnya.
Semua pasti akan memiliki waktunya, untuk menujukkan apa yang harus ditunjukkan.
Seperti Tuhan, sedang menujukkan padaku, betapa Allah menyayangiku, menjauhkanmu dariku karena Allah tahu yang lebih baik untukku, untuk pohon yang kelak akan kutanam kembali. 
Allah pasti mengirimkan Matahari yang tak lelah dan bosan menyinari pohonku, sehingga ia akan tumbuh sesuai harapanku, seseorang yang sudah ada di lauh mahfuzh.

Buahku
Ya, ini adalah buah yang akhirnya ku petik setelah melalui waktu yang cukup lama untukku bertahan merawatnya.

Kini, aku hanya berharap pada Allah
Aku tak akan lagi mencintai orang yang sewaktu-waktu pergi
Aku yakin, Allah akan memberiku seseorang yang dengan Ridho-Nya kami akan berjalan di jalan-Nya, yang dengan Rahmat-Nya kami akan dipersatukan dalam Mitsaqan Ghaliza.


Tak ada lagi kata pacaran atau apapun itu, sudah cukup aku merasakan akibat dari kesalahan yang kubuat sendiri.
Semoga Allah meridhoi niatku, karena ku yakin, siapapun yang berjalan mendekat pada-Nya, maka Allah akan datang lebih dekat padanya.

dan Kau, semoga secepatnya kau menemukan tujuanmu. Aku masih mendo'akan kelapangan untukmu, seperti inginmu, semoga Idul Fitri tahun depan kau sudah menjadi seorang suami dari istri yang sholeha yang kau idamkan selama ini aamiin...


Aku,
berterimakasih pada siapapun yang mengenalkanmu padaku. Ini bukan pertemuan yang salah, hanya saja Allah memberikan kesempatan untuk kami dipertemukan dengan orang yang lebih tepat.

Semoga,
hariku, harimu berikutnya akan menjadi hari yang bersinar tanpa ada beban, bersinar dengan setulus hati, sehingga tak perlu mencari kembali tempat lain untuk tenggelam.


Semoga,
siapapun yang kembali memulai untuk menanam, kelak akan dirawat dengan penuh rahmat dan ridho dari Allah, agar tumbuh sesuai harapan dan berbuah manis aamiin...


Aku,
dalam masa yang lebih baik,
Jazakalloh~

Komentar

  1. Balasan
    1. Jadiin pelajaran yah de, kalo sekiranya belum siap nikah, gausah ngasih harapan palsu, harus bisa tanggung jawab dan komitmen atas setiap ucapan dan tindakan

      unga sayang dede :*

      Hapus

Posting Komentar

Berbagilah, karena itu indah :)

Postingan populer dari blog ini

Smile Maker

welcome Oct nothing different from me.. manusia tidak hidup sendirian di dunia ini tetapi di jalan setapak yang beda, setiap manusia berjalan sendirian berjalan, berlari dan sesekali berhenti semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama mencari suatu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama hingga semakin dekat ke tujuan, manusia semakin menyadari bahwa di sepanjang jalan setapak yang sudah dilewati dia takkan pernah benar-benar sendiri manusia selalu bersama apa yang dia cari bersama tujuannya, yaitu Tuhannya *tanda tanya movie Tuhan, kali ini aku tidak ingin mengeluh tentang apa yang sedang kurasakan sekarang aku hanya ingin mengingat, betapa besar karunia yang telah Kau beri padaku Tuhan.. terimakasih telah menyempatkan hidupku untuk mengenalnya, mengenal dia yang mampu membuatku lupa setiap masalahku, sakitku. dia selalu menyemangatiku, menyadarkanku bahwa aku mampu, tidak meninggalkanku dalam kondisi apapun, he's my smile maker. ...

MIS

mochamad irsyad sapardiansyah ~~ 7 Oktober 1988 lucu, ga cakep, kata teh maya sih manis, kalo kata mamah ganteng :)) kalo kata unga dia ituuuu 'sisupersabar' =) sweet deh pokonya dari pertama ketemu sampe sekarang nih belum pernah deh unga dimarahin, yang ada juga unga yang marah-marah haha mungkin karena aa yang cuek jadi ga begitu suka kalo marah-marah dan lebih suka kalo ngalah aja jadi unganya yang ga ngerti-ngerti =D bodo ah yang penting dianya tetep sayang haha pengen cerita tentang perjalanan kita yang hampir 3 bulan ini dulu mungkin alesan unga mau nerima dia karena panas aja ga ada tanggepan terus dari sidia(oranglain yang sempet gw tunggu), jadi ya wajar kalo baru sebulan udah bosen(kan niatnya juga cuma pengen bikin cemburu sidia). eh tapi yah baru juga putus 1minggu kali, tiba-tiba hubungannya malah jadi deket, entah karena pengaruh mamah yang tiap hari nanyain kabar dia, entah karena sms dia yang ga ganggu, entah kangen, entah sepi, entah k...

Kake :)

Assalamualaikum kake... rasanya tak sopan jika cucumu ini menanyakan kabarmu disana semakin dekat dengan Sang Pencipta dikehidupan yang lebih abadi maafkan aku ke, pagi tadi hanya Al-Fatihah yang bisa kuhadiahkan untukmu.. lepas malam nanti kan ku hadiahi surah lain untukmu.. delapan tahun sudah, aku masih mengingat kata-kata terakhir yang kau ucapkan untukku Minggu pagi 12 Februari 2006, kau datang tanpa kabar sebelumnya, aku terkejut sekaligus senang untuk terakhir kalinya kita makan bersama, sayangnya kenapa saat itu aku tak ikut papah untuk mengantarkan kake pulang sebelum pergi kau berpesan padaku, bahwa aku harus kuat, harus pintar, agar kelak bisa menjaga kedua orang tuaku dengan baik. kake... cucumu kini tak semanja dahulu, seiring berjalannya waktu Allah menyelipkan banyak pelajaran hidup untukku kini aku sudah tak gengsi lagi untuk naik Angkutan Umum, bahkan tahun lalu aku selalu suka naik Damri kini aku sudah bisa berkendaraan sendiri, pulan...