Sesungguhnya ada rasa tak ingin menyambut 22 tahun
Seperti ada jelaga tinggi dan aku sulit untuk menyambut bahwa esok adalah tanggal 22 Maret 2015
Tanggal 22 yang ke 22 kali dalam hidupku
Dahulu, saat aku masih ranum seperti jambu merah muda, saat tak ada pikiran tentang bagaimana aku harus mencapai masa depan, hanya tentang cita-cita ingin menjadi ini dan itu.
Ada satu cita yang kurasa menjadi cita semua orang, aku ingin menikah di umur 22 pada hari ulang tahunku yang ke-22
Mungkin ini alasan mengapa aku seperti ingin tak ingin menyambutnya.
Tapi, untuk apa aku banyak membaca namun tak ada yang kuserap
Mungkin Allah memang belum meridhoi inginku yang satu ini, bukan mungkin tapi memang Allah punya rencana yang jauh lebih indah dari bayanganku
Sejujurnya aku memang ingin menikah dihari itu hanya karena aku suka pada rentetan angkanya, dua puluh dua
Pagi menyambut dengan awan banyak dan bergerak cepat dengan anginnya, aku memohon agar cuaca menjadi cerah, aku ingin semua yang ku undang dapat hadir, sekedar untuk menerima ucapan terimakasihku
Kado pertama dari Ibu, Ayah dan Adiku.
Do'a yang tak pernah bisa kubeli dengan apapun, do'a yang akan terus mengiringi setiap langkahku, do'a yang menjadi senjata untukku mencapai Ridho-Nya.
Hujan menyambut waktu dzuhur, ada rasa khawatir akan ada yang tidak hadir hari itu. Dan waktu menyampaikan mereka semua untuk berkumpul sembari makan bersama, Alhamdulillah....
Canda, Cerita, Keluh dan segala rasa yang sudah lama tak keluar akhirnya kudengar lagi dari mereka
Teman, AKU RINDU!
Waktu 3 tahun bersama kalian adalah hal yang luar biasa, menjadi kenangan dengan perjalanan yang tidak membosankan.
Banyak pelajaran hidup, tentang kasih sayang dan yang terpenting tentang keikhlasan
Mungkin Gengsi sempat menutup mataku, mata hatiku. Tak ingin melihat, mendengar apalagi berbicara. Seperti terlalu tinggi hingga tak ingin melihat ke bawah. Padahal, manusia jelas dasarnya dari saripati tanah, apa masih pantas untuk sombong dan tak mau menerima perjalanan yang sulit. Seakan dunia adalah segalanya hingga terus dikejar tanpa peduli kanan dan kiri, membiarkan yang lembut dan terus semakin keras. Menjadi yang berkuasa padahal sejatinya malah menindas. Naudzubillahimindzalik...
Malam semakin larut, dan satu persatu mereka pulang.
Aku tak tahu kapan lagi kita bisa berkumpul berbagi segala rasa, walau aku yakin selama kita menjaga silaturhami, tentu jarak tak akan memisahkan apapun..
Dan kado terindah di 22 ini adalah, 132 detik yang mampu membuatku berdamai.
Berdamai dengan masa lalu, berdamai dengan mulut yang sudah gengsi untuk memulai bicara
Ternyata Tuhan menunjukkan, bahwa hati takkan terlupakan oleh apapun
Diam-diam mendo'akan dalam rindu, dan akhirnya kami saling memaafkan masa lalu
Alhamdulillah~
"Sekali lagi, bahwa jauh bukanlah tentang jarak tapi tentang menyempatkan"
"Sekali lagi, bahwa jauh bukanlah tentang jarak tapi tentang menyempatkan"
Ya Allah,
Syukur Alhamdulillah atas nikmat kumpul yang telah kau berikan
Semoga Engkau senantiasa memberikan kesempatan untuk kami menjaga silaturahmi
Melapangkan jalan kami, meridhoi setiap hajat kami aamiin
Barakalloh~


menyenangkan sekali yah,. nice sharing, nice posting kak'
BalasHapuswww.enasnasrudin.com