"duh sedih banget yah jadi gw". kata seorang gadis bernama Kirana Paramitha. Mahasiswi tingkat akhir yang sedang mengikuti magang di sebuah perusahaan IT itu banyak mengeluh akhir-akhir ini. bukan masalah kuliah atau pekerjaannya yang baru saja ia alami, tetapi karena Rasa.
Gerimis saat pertengahan bulan, Rana melihat suasana yang menenangkan itu dibalik jendela kamar kostnya. Rana sangat menyukai hujan, entah karena suara air yang memang menjernihkan setiap pendengarnya, atau karena banyaknya memori indah yang ia kenang. Ia adalah gadis yang kuat, tak sering mengeluh masalah perasaan, namun saat ini ia hanya bisa cerita tanpa bisa menjelaskan.
---
Rasa, ia selalu menenangkan, kepribadiannya yang selalu membuat nyaman orang-orang disampingnya. Manging Technical perusahaan IT ini memang tak banyak bicara, tetapi entah mengapa ia mampu membuat Rana merasa ada yang salah pada dirinya.
"Nay, gw kenapa yah? lu ngerasa gw aneh gaa? gw ko jadi semangat banget yah masuk kantor, udah gitu gw jadi suka dandan, lu tau ga?! kemaren gw baru aja beli eyeshadow ama lipstick! lu ngerti gw kan? lu tau ga gw kenapa sih sebenernyaaaaa?!", ceritanya pada sahabat terdekatnya Nayla. Nayla adalah orang yang selalu menenangkan dia. Sifatnya yang lebih dewasa membuat Rana nyaman dekat dengannya. Ia selalu cerita apapun yang ia rasakan pada Nayla.
"ehm...gw tau ko lu kenapa Ran..." sembari tersenyum manis Nayla mengoloknya. Nayla tahu pasti apa yang membuat sahabatnya itu berubah, bukan hal yang luar biasa sesungguhnya. Hanya untuk Rana ini memang istimewa.
Satu bulan yang lalu Rana diterima sebagai karyawan magang di luar kota, pada awalnya ia malas untuk mengambil karena jaraknya terlalu jauh, maklum selama hidupnya ia memang tak pernah pergi untuk waktu yang lama dari rumahnya. Namun saat ia tahu Nayla juga diterima di kota yang sama, akhirnya ia memutuskan untuk mengambil lowongan itu. Lagipula pikirnya ini hanya magang, toh nanti setelah lulus ia bisa mencari pekerjaan di kota asalnya.
---
Pekan pertama ia adaptasi di kantornya, sudah banyak karyawan tetap disana yang ia kenal. Semuanya baik, walaupun ada beberapa rekan wanitanya yang suka bergosip tentang dirinya tetapi ia tidak peduli. Ia hanya berpikir bahwa setiap orang yang membicarakannya tidak pernah lebih hebat darinya. Hingga ada seseorang yang di anggapnya berbeda dari yang lain, yang membuat ia semakin mudah untuk adaptasi dikantornya tersebut. Dialah Rasa.
Nama lengkapnya adalah Anggara Prasadawula, entahlah namanya memang aneh untuk didengar, ia tak pernah suka di panggil Angga maka dari kecil orang tuanya memanggilnya Prasa, namun karena sulit di ucapkan oleh lidah balita maka hingga sekarang ia memanggil dirinya Rasa. Ia lelaki yang baik, perhatian, dan hangat sekali terhadap wanita. Yaa wanita termasuk pada Rana. Ia memberi tahu semua yang harus dikerjakan oleh Rana dengan Baik. Rana nyaman sekali, tak pernah merasa ada jarak senioritas.
---
Hari itu, malam setelah ia selesai mengerjakan semua aktivitasnya. Telepon genggamnya berdering, malas-malas ia melihat layar telepon genggamnya, -Rasa- satu pesan diterima. "Malam Ran..", membaca pesan itu hatinya tiba-tiba bergetar, ada senyum mengembang dari bibir kecilnya. Malu-malu ia membalas "Malam Mas, ada apa? apa pekerjaanku ada yang tidak beres?", dengan kaku ia seperti tak bisa berkata biasanya. Pesan singkat itu terus berlanjut di hari-hari berikutnya.
Sepulang kantor ia tak langsung menuju kost, ia mampir sebentar untuk membeli eyeshadow dan lipstick. Ada yang mendorongnya untuk tampil menarik di kantor, entah apa. Langsung ia gunakan keesokan harinya, dandanannya lebih rapih, cara biacaranya lebih teratur, menyesuaikan dengan apa yang dikenakannya saat itu.
Hingga berlalu cerita-cerita yang membuatnya semakin kerasan bekerja dikantor tersebut.
---
"eh Ran, lu tukang tikung yah ternyata, gak nyangka gw muka-muka lu ternyata nakal juga" Farah mendelik sembari lewat ke depan meja Rana. "Gosip apa lagi sih yang dibikin mereka" ucap Rana dalam hatinya. Rana benar-benar tak mengerti apa yang salah dengan dirinya. Tukang-tikung? apa maksudnya hanya membuat Rana bingung.
Sore harinya setelah pulang kerja, ia memang ada janji bersama Rasa untuk dinner bersama. Ia menunggu langsung di tempat yang disepakati. Mereka memang sengaja tidak pergi bersama karena hanya akan menimbulkan omongan orang saja. Cukup lama Rana menunggu hingga akhirnya Rasa datang dan mereka langsung memesan makanan. Bukan restoran yang mewah, Rana tak terlalu suka makan ditempat yang terlalu formal. Food Court didekat kostan Rana yang menjadi kesepakatan, pikir Rana ini agar hemat ongkos, agar ia tak keluar uang lagi untuk pulang ke kostannya. Saat menunggu makanan disajikan, dengan polosnya Rana langsung bercerita soal rekan wanitanya di kantor. "Mas tahu gak? masa aku dibilang tukang-tikung sih ama anak-anak dikantor, emangnya aku kenapa yah? perasaan aku ga ganggu siapa-siapa?! aku kerja yah kerja aja, gak pernah ada perasaan mau nikung siapa-siapa". Rasa hanya terdiam, sesungguhnya ia tahu apa yang menjadi pembicaraan rekan kerjanya itu. "Maaaassss, ko diem aja sih? ayo dimakan tuh makanannya udah dateng, aku makan duluan yah udah laper banget soalnya hihi". Nafsu makan Rasa tiba-tiba saja hilang, seperti ada rasa bersalah dihatinya. Namun ia tak sanggup mengatakan yang sesungguhnya. Setelah selesai mereka berlanjut untuk pulang, tak ada obrolan apa-apa lagi, sesampainya di kostan pun tak ada pesan singkat yang diterima di handphonenya. Ada yang salah pikir Rana. Dia gelisah tak tahu harus berbuat apa. Hingga kumandang adzan shubuh mengingatkan ia bahwa hari telah berganti.
Dengan muka pucat, enggan tak enggan ia menyapa teman kantornya. Efek tidak tidur semalaman semangatnya jadi menurun, mungkin yang lebih berpengaruh adalah karena perubahan sikap Rasa semenjak tadi malam. Wajahnya langsung merah, bukan karena tersipu akan kejutan yang ia terima, tetapi karena terkejut melihat desktop monitornya adalah tampilan media sosial dengan pemilik Anggara Prasadawula dan ada keterangan yang menunjukan Anggara Prasadawula memiliki hubungan dengan Fania Lahita, seorang perempuan keturunan campuran memliki warna kulit kuning langsat, terlihat dari fotonya bahwa gadis itu gadis anggun, elegan dengan gayanya bersanding dengan Rasa. Terasa sakit di dadanya Rana, seperti ada yang menusuk tajam tepat di bagian hati. Air mata yang sudah penuh menetes membuatnya tersadar apa yang selama ini ia rasakan, ternyata ia jatuh cinta pada Rasa. Ia tak rela mengetahui bahwa Rasa sudah bertunangan dengan Fania. Dengan cepat ia menghubungi Nayla, dan membicarakan masalah pemutusan program magang di kantornya. Selesai menghubungi Nayla, ia langsung pergi dari kantor dengan wajah kusut. Tanpa berpamitan dengan satupun orang di kantornya. Rekan wanitanya hanya tertawa sambil mengolok melihatnya pergi.
---
Dua pekan berlalu, perasaannya masih kacau, ini memang cinta pertama untuknya, tetapi apakah harus menjadi patah hati yang pertama juga. Nayla sudah berusaha membuatnya tenang dan dapat kembali bekerja sebagai karyawan magang, karena jika tidak ini akan menghambat kuliahnya nanti. Tetapi sepertinya ini terlalu sakit hingga membuat Rana egois dan tidak ingin kembali ke kantor itu walaupun harus mengorbankan kuliahnya.
Terlalu pagi saat seekor burung nuri berwarna putih berkicau tepat di depan jendela kamar kostnya. Pelan-pelan Rana membuka matanya, dipikirnya itu hanya imaginasinya saja, namun ia terkejut binatang kesukaannya itu seperti menunggu untuk disambut. Rana memang sangat menyukai burung nuri, apalagi yang warnanya putih, banyak kenangan bersama ayahnya saat ia kecil ya saat ayahnya masih tinggal bersamanya di dunia.
Semenjak nuri itu dipeliharanya, hari-harinya membaik, seperti ada alasan untuk Rana kembali bersemangat. Ia belum berani untuk pulang ke kotanya karena ia takut akan pertanyaan masalah magang dari ibunya. Rana memang tidak dekat dengan ibunya, mungkin karena 4 adiknya yang menguras perhatian ibunya sehingga ia memang terbiasa mengurus dirinya sendiri.
Sabtu sore ia mengirim pesan pada sahabatnya, -gw ke kostan lu skrg yah, tunggu jangan pegi gw mau cerita-. Pesan itu langsung diterima oleh Nayla, untungnya iatidak ada rencana keluar sore itu. Semoga saja ada cerita baik dari Rana untukknya, walaupun sesungguhnya Nayla sudah tahu apa yang akan diceritakan oleh Rana.
"hello? may i join with you?" wajah familiar itu mengintip dari balik pintu kost Nayla. "oke, masuk aja kali, Rana juga gak akan keberatan, ya kan Ran?!" dengan wajah meyakinkan Nayla merayu Rana. Sebetulnya Rana tidak siap untuk bertemu Rasa namun mau apalagi sudah ada didepan mata, Rana pikir dirinya harus membiasakan keadaan hatinya untuk menerima. Mereka mengobrol seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Semenjak Rana tidak masuk kerja Rasa tidak tinggal diam, ia merasa bersalah dan mencari cara agar Rana kembali, kembali ke kantornya atau yang paling penting kembali menjadi dirinya. Burung nuri itu Rasa yang membeli dan menaruhnya didepan jendela, ia tahu segala sesuatu tentang Rana dari Nayla, ibu kostan Rana yang memberi kontak Nayla padanya. Rasa juga menjelaskan pada Nayla sesungguhnya dia bukan ingin mempermainkan hati Rana, ia hanya ingin menjadi kakak untuk Rana, sikap Rana yang apa adanya membuat Rasa terkesan. Rasa hanya ingin menjaga Rana, memberinya kasih sayang, membuatnya nyaman. Ia sadar sikapnya memang sudah membuat Rana berharap lebih, tetapi jika disuruh memilih Rasa tetap memilih Fania, hubungan mereka terikat oleh ikatan keluarga, Rasa memang dijodohkan oleh ibunya, Rasa tak terlalu suka pada Fania, Fania adalah gadis yang terlalu duniawi, kebutuhan life style nya saja dalam satu bulan sama nilainya dengan mobil murah yang kini ramai dipasaran. Rasa sudah menyerah akan perjodohannya. Entahlah setelah menikah nanti apa yang akan terjadi.
---
-September-, ada senyum mengembang saat membalikan kalender meja di kantornya. Akhirnya Rana dapat menyelesaikan program magangnya, memang terlambat satu bulan, tetapi tak apa daripada harus mengulang di tahun berikutnya. Rana sudah kembali menjadi dirinya, diri yang tak peduli akan pembicaraan orang lain, kini ia tahu apa yang baik untuknya. Cukup menjadi independent dan tidak menyakiti siapapun. Hubungannya dengan Rasa juga terjalin baik, bahkan sekali waktu mereka pernah makan bersama -Rasa-Rana-Fania- . Fania tak pernah cemburu pada Rana, Rana bukanlah saingannya. Rana juga tak pernah cemburu pada Fania karena ia tahu yang sesungguhnya dari Rasa. Lima hari lagi ia pulang kekotanya, Nayla sudah berjanji akan menjemputnya di stasiun kota. Rana tak pernah tahu apa yang terjadi kedepannya. Ia hanya bersyukur pada Tuhan, telah memberikan pelajaran hidup seperti ini. Memang bukan sesuatu yang istimewa bagi orang lain. Tetapi untuknya ini akan menjadikannya tumbuh lebih kuat lagi.
---8 bulan kemudian---
"Selamat ya Nak, ibu bangga sama kamu". Hari ini adalah wisuda angkatan pertama jurusannya. Disebuah aula universitas tempatnya kuliah, ia lulus dengan cumlaude, Nayla juga mendapatkan nilai suma-cumlaude. Ibu dan adik bungsunya yang menjadi pendamping saat wisuda. Nayla datang bersama orang tuanya lengkap. Sesaat setelah wisuda, seorang lelaki membawa bouquet bunga rose merah menghampiri Rana. Bukan kurir dari toko bunga, tetapi lelaki itu adalah orang yang memberinya pelajaran hidup, yang menjadikan ia dewasa. Ia datang memberikan selamat, dan satu hal. Rasa datang untuk melamar Rana. Pada akhirnya bukanlah Rasa yang mengalah tetapi Fania, ia tak kuat dengan Rasa yang sulit mengikuti life style nya. Dan memutuskan untuk mengakhiri pertunangannya, memang terjadi masalah dengan keluarga kedua belah pihak, namun Rasa bersyukur bukan dia penyebabnya. Tanpa ragu Rana meminta izin pada ibunya untuk menerima lamaran Rasa.
Hari ini sungguh sesuatu terjadi penuh campur tangan Tuhan. Dan semenjak itu Rana mengerti Tuhan memang tak pernah memberikan akhir yang menyedihkan. Dan jika kini apa yang dirasa belum membahagiakan berarti itu bukanlah akhirnya. Tunggu, dan biarkan Tuhan menciptakan kehidupan yang baik untuknya.
-bf
statemen endingnya keren :D
BalasHapusthankyouuuu :)
BalasHapusKerenn :)
BalasHapusfanny, baru sadar ada yang comment, makasi udah baca hehe
BalasHapus